Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengertian Korosi dan Jenis-Jenis Korosi Secara Umum

Korosi adalah rusaknya atau berkurangnya kualitas logam karena hasil reaksi logam tersebut dengan lingkungannya. Didalam praktik, proses korosi sudah terjadi sejak bahan-bahan diambil dari bumi sampai kembali lagi ke bumi seperti terlihat pada gambar berikut.


Pada kenyataannya, pengendalian korosi banyak ditekankan agar produk jadi memiliki ketahanan terhadap korosi yang memadai supaya diperoleh masa pemakaian yang lama.

Jadi, seperti terlihat pada gambar diatas, penanggulangan korosi ditekankan pada daerah antara produk jadi sampai produk rusak. Meskipun usaha-usaha untuk mengatasi proses ini terus berlangsung, tetapi perusakan logam oleh proses korosi masih juga belum dapat ditanggulangi secara menyeluruh. 

Di Indonesia, kerusakan akibat korosi sangat menonjol karena keadaan alamnya yang khas, lingkungan udara yang lembab, kondisi laut, curah hujan yang tinggi serta pengotoran industri. Korosi pada logam secara umum timbul sebagai hasil dari reaksi elektro kimia yang diakibatkan oleh adanya elektrolit-elektrolit yang bersentuhan dengan permukaan logam. Elektrolit tersebut biasanya berbentuk larutan garam, asam atau alkali. Berdasarkan hal ini, maka tipe korosi yang terjadi dinamkaan tipe korosi basah. Sedangkan tipe korosi yang dihasilkan dari reaksi kimia antara logam dan gas atau cairan bukan elektrolit diklasifikasikan sebagai tipe korosi kering.

Masalah korosi memang sangat sukar untuk ditanggulangi secara tuntas, akan tetapi karena proses korosi mengikuti kaidah (hukum) tertentu, maka proses korosi dapat diusahakan untuk dikendalikan. Usaha pengendalian korosi ditujukan agar proses korosi berlangsung lambat sehingga kerugian korosi per satuan waktu dapat diperkecil. Hal tersebut hanya dapat tercapai apabila dilakukan pengkajian yang seksama terhadap variabel-variabel yang mempengaruhi proses korosi. Karena itu suatu penelitian mengenai korosi, mulai dari penelitian logam sampai dengan pemakaiannya serta cara memonitor proses korosi perlu mendapat perhatian tersendiri.

Manfaat perlunya mempelajari korosi adalah sebagai berikut:

1. Ditinjau dari aspek ekonomi adalah untuk memperkecil kerugian karena hilangnya material akibat korosi. Suatu peralatan atau komponen yang tidak cermat dalam mengendalikan laju korosi, masa pakai dari peralatan atau komponen tersebut akan menjadi singkat.

2. Ditinjau dari aspek keselamatan adalah untuk memperkecil kecelakaan karena korosi yang tidak dipantau dengan cermat dapat menimbulkan kecelakaan yang dapat menyebabkan korban jiwa.

3. Ditinjau dari aspek konservasi, pengendalian korosi yang cermat dapat menghemat pemakaian bahan-bahan. Seperti diketahui, kandungan bahan didunia sifatnya sangat terbatas. Pemborosan bahan disatu pihak berarti pula pemborosan energi dan bahan lain yang berkaitan dengan proses fabrikasi bahan yang bersangkutan. Aspek konservasi mencakup pula upaya-upaya untuk mendaur ulang bahan-bahan yang terkorosi agar dapat dimanfaatkan kembali. Tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidak semua bahan dapat didaur ulang.

 Korosi pada struktur pesawat ditemukan dalam bentuk yang bervariasi. Seringkali bentuk awal serangan berkembang dan berlanjut menjadi bentuk korosi lainnya atau dapat menjadi beberapa bentuk yang terjadi secara simultan yang membuatnya sulit untuk diidentifikasikan.

Berdasarkan serangannya, korosi dibedakan menjadi 3 diantaranya sebagai berikut:

a. Korosi Permukaan

Contoh : permukaan (general surface corrosion).

b. Korosi Lokal

Contoh:

- Korosi Galvanik (Galavanic Corrosion)

- Korosi Celah (Crevice Corrosion)

- Korosi Sumuran (Pitting Corrosion)

- Korosi Bentuk Kawat (Filliform Corrosion)

- Korosi Antar Butir (Inter Granular Corrosion)

- Korosi Pengelupasan Kulit (Exfoliation Corrosion)

- Koroso Microbial (Mocrobial Corrosion)

c. Korosi Akibat Pengaruh Mekanik

Contoh:

Korosi tegangan retak (stress Corrosion Cracking)

Diatas adalah pembagian secara umumu jenis-jenis korosi pada umumnya yang ada dibumi, adapun bentuk-bentuk korosi yang sering ditemukan di pesawat adalah sebagi berikut:

a. Korosi Permukaan (General Surface Corrosion)

Bentuk korosi yang paling umum ditemui adalah kerusakan merata pada permukaannya. Kejadian ini biasanya ditandai oleh reaksi kimia atau elektrokimia yang berlangsung secara seragam diseluruh luas permukaan yang terbuka (tanpa proteksi). Logam yang mengalami kerusakan ini lambat laun akan menjadi tipis dan akhirnya akan kehilangan daya gunanya. Sebagai contoh: Sepotong logam Zn didalam larutan encer H2SO4 akan terlarut secara merata disegenap permukaannya dengan laju pelarutan yang seragam.

Kerusakan akibat korosi merata dapat dikendalikan dengan beberapa cara, yaitu:

- Penggunaan logam tahan korosi

- lapisan pelindung

- proteksi katodik

- inhibitor

b. Korosi Galvanik (Galvanic Corrosion)

Korosi galvanik terjadi karena adanya dua logam yang berbeda dalam suatu lingkungan dan saling berhubungan.

Diantara kedua logam tersebut akan timbul suatu tegangan listrik, sehingga logam yang lebih kecil potensial elektrodanya akan lebih mudah teroksidasi dan akan menjadi anoda, sedangkan logam yang lebih besar potensoal elektrodanya menjadi katoda. Pada daerah anoda akan terjadi pelarutan logam karena terjadi oksidasi.

Dibandingkan dengan sifat masing-masing logam sebelum saling berhubungan, maka dalam kondisi tersebut laju kerusakan logam yang lebih anodik akan dipercepat, sedangkan laju korosi logam yang lebih katodik akan ditekan atau berhenti sama sekali.

Korosi galvanik dapat diprediksi dengan mengetahui perbedaan potensial antara dua logam yang saling berhubungan. Biasanya bila perbedaan potensialnya kurang dari 0,05 volt, korosi galvanik dapat diabaikan. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kerusakan akibat korosi galvanik yaitu: kondisi lingkungan, jarak, serta perbandingan luas permukaan katoda dan anoda. Jika lingkungan mempunyai konduktivitas listrik yang tinggi, kerusakannya bersifat merata, sedangkan jika lingkungan konduktivitas nya rendah, dapat terjadi kerusakan lokal. Koroso jenis ini, tingkat kerusakan yang tinggi terdapat pada daerah sambungan/kontak antara kedua logam. Tingkat kerusakannya akan menurun dengan bertambahnya jarak.

Faktor-Faktor Penyebab Korosi

 a. Aspek Desain

- Logam-logam yang tidak sama

- Celah

- Level tegangan yang tinggi

- Proteksi yang tidam cukup

- Pemberian lubrikasi yang kurang

- Kurangnya drainase

- kurangnya jalan masuk

- Pemilihan material yang tidak tepat

- Pemilihan proses yang tidak tepat

b. Prose Manufaktur

- Kurangnya training

- Proses dan prosedur yang tidak tepat

- Aplikasi proteksi akhir yang tidak tepat

- Assembly yang tidak tepat

- Kurangnya kontrol kualitas

c. Lingkungan Operasi

- Pantai, dan Laut

- Iklim lembab yang panas

- Industri

- Run Ways yang berikil

- Zat-zat kimia penghilang es atau salju

d. Kerusakan Proteksi Akhir

- Sumbing

- Tergores

- Putus/rusaknya sekitar pengikat

- Abrasi

- Endapan-endapan

- Erosi

- Umur

e. Kondisi Dalam Pesawat

- Pengembunan

- Transportasi Binatang

- Transportasi makanan laut

- Tumbuhnya Microbial

f. Kontaminasi aksidental

- Tumpahnya Mercury

- Tumpahnya bahan kimia

- Tumpahan dapur

- Tumphan toilet

- Sisa kebakaran dan bahan pemadam kebakaran

g. Masalah Di Area Maintenance

- Mengabaikan 

- Repair yang tidak tepat

- Pembersihan yang tidak tuntas

- Kurang training

- Tidak cukupnya program pengendalian korosi dan implementasinya.



Posting Komentar untuk "Pengertian Korosi dan Jenis-Jenis Korosi Secara Umum"